Blokade TPA Antang Dibatalkan, Cobra Legend Indonesia Tegaskan Tak Mundur dari Krisis Limbah
Makassar, 1 April 2026 – Rencana aksi pemblokadean akses menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang yang dijadwalkan pada 2 April 2026 resmi dibatalkan oleh Dewan Pengurus Kota Makassar Cobra Legend Indonesia (CLI). Keputusan ini diambil setelah koordinasi dan komunikasi lanjutan bersama warga Tamangapa, serta menyikapi dinamika berkembang termasuk pernyataan sikap di media sosial terkait penolakan aksi yang mengatasnamakan warga.
Sekretaris DPC CLI Kota Makassar, Edi Aswar, menegaskan bahwa pembatalan aksi bukan bentuk kemunduran, tekanan, atau keraguan, melainkan langkah sadar untuk berpijak pada aspirasi masyarakat. “Kami perlu luruskan, ini bukan mundur. Kami tidak sedang melemah. Kami hanya tidak memaksakan keadaan. Sejak awal kami hadir untuk warga, bukan membawa kepentingan sendiri,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa posisi organisasi sejak awal adalah sebagai pengawal aspirasi, bukan pihak yang bergerak sepihak tanpa dasar dukungan masyarakat. “Kalau dalam perjalanannya ada perubahan sikap dari warga, maka kami juga menghormati itu. Kami tidak ingin berdiri di atas sesuatu yang tidak lagi menjadi kesepakatan bersama,” lanjutnya.
Di balik pembatalan aksi, Edi mengingatkan agar publik tidak terjebak pada persoalan permukaan. “Jangan dipersempit seolah-olah ini hanya soal macet atau akses jalan. Ini keliru. Yang kita hadapi adalah persoalan limbah dan kesehatan masyarakat yang sudah sangat serius,” tegasnya.
Menurutnya, kondisi sekitar TPA Antang menunjukkan gejala krisis lingkungan yang nyata. Limbah (lindi) yang mencemari lingkungan, bau menyengat, serta meningkatnya risiko penyakit menjadi persoalan utama yang tidak bisa diabaikan. Tak hanya itu, Edi menyoroti dugaan masuknya sampah dari luar Kota Makassar yang memperparah kondisi TPA dan beban lingkungan warga Tamangapa. “Kalau benar ada sampah dari luar daerah yang masuk, ini harus ditelusuri secara terbuka. Jangan sampai warga di sini harus menanggung beban dari wilayah lain,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pembatalan aksi juga mempertimbangkan kondisi sosial di lapangan guna menghindari potensi benturan antarwarga, kemacetan, dan kemungkinan munculnya aksi tandingan.
Sebagai langkah lanjutan, CLI memilih menempuh jalur yang lebih strategis melalui audiensi resmi dengan pihak terkait. “Kami tidak berhenti. Justru kami dorong solusi yang menyentuh akar masalah—mulai dari pengolahan sampah yang memadai, penanganan limbah, hingga perlindungan kesehatan warga,” jelas Edi.
Menutup pernyataannya, ia menegaskan bahwa komitmen organisasi tetap utuh dan tidak berubah. “Ini bukan soal aksi jadi atau tidak. Ini soal keberpihakan. Selama persoalan ini belum selesai, kami akan tetap berada di garis depan untuk mengawal,” pungkasnya.
Ada dugaan masuknya sampah dari luar Kota Makassar yang perlu diteliti secara terbuka agar warga tidak menanggung beban wilayah lain.
Pembatalan juga untuk menghindari potensi benturan antarwarga, kemacetan, dan aksi tandingan.
Langkah lanjutan CLI adalah melakukan audiensi resmi dengan pihak terkait untuk mencari solusi yang menyentuh akar masalah.
Komitmen organisasi untuk mengawal persoalan ini tetap utuh selama belum menemukan penyelesaian.
POIN-POIN UTAMA
1.Rencana aksi pemblokade akses TPA Antang yang dijadwalkan 2 April 2026 dibatalkan oleh Dewan Pengurus Kota Makassar Cobra Legend Indonesia (CLI).
2.Pembatalan diambil setelah koordinasi dengan warga Tamangapa dan menyikapi dinamika berkembang termasuk penolakan yang mengatasnamakan warga di media sosial.
3.Sekretaris DPC CLI Edi Aswar menegaskan pembatalan bukan bentuk mundur, melainkan langkah untuk berpijak pada aspirasi masyarakat.
4.Posisi organisasi adalah pengawal aspirasi dan tidak akan memaksakan diri tanpa dukungan bersama dari warga.
4.Persoalan yang sebenarnya bukan hanya macet atau akses jalan, melainkan krisis limbah dan kesehatan masyarakat yang serius.
5.Konndisi sekitar TPA Antang menunjukkan masalah lingkungan seperti pencemaran limbah lindi, bau menyengat, dan peningkatan risiko penyakit.
Tim REDAKSI
Related Articles